Menelisik Keberadaan Go-Jek di Madiun, Akankah Sukses?

Go-Jek, siapa yang tidak mengenalnya? meskipun layanan ini umumnya hanya ada di kota-kota besar, berita-berita di TV maupun di Internet membuat nama Go-Jek cukup melambung. Disini saya akan coba melakukan sedikit analisis menurut sudut pandang saya pribadi sebagai praktisi digital marketing.

Singkat cerita, saya baru tau mengenai berita (atau entah hanya isu) akan rencana Go-Jek mengekspansi bisnis mereka ke Madiun. Mendengar berita tersebut, di otak saya langsung terbesit, “seriously?”. Saya juga sempet bertanya ke temen-temen kantor saya (di perusahaan bisnis konsultan), dan mereka cuma jawab “Ha?

Saya akhirnya mencoba mencari informasi di Internet dan menemukan brosur berikut.

Saya disini mau berbicara mengenai peluang kesuksesan Go-Jek jika memang benar ia bakal membangun bisnis mereka di Madiun. Saya disini sedang memposisikan diri sebagai perantau di Jakarta, dan sebagai orang yang tinggal di wilayah sekitar Madiun, tepatnya saya tinggal di Magetan.

Madiun bukan tempat asing bagi saya, dan mungkin hampir separuh diri saya bisa disebut orang Madiun daripada orang Magetan. Tinggal di perbatasan Magetan-Madiun, tempat nongkrong di Madiun, dan sejak SMP saya sekolah di Madiun.

Jadi sudut pandang saya berikut ini adalah analisa saya sebagai analis bisnis (saya bekerja di perusahaan konsultan bisnis), dan sebagai putra daerah dan tentunya sebagai pengguna Go-Jek di Jakarta.

1. Madiun Bukan Kota Wisata

Ketika berbicara mengenai Go-Jek, saya rasa keberhasilan terbesar mereka jelas berada di Jabodetabek (dan mungkin Bali), gaya hidup dan kebutuhan sesuatu yang simple tentu menjadi alasan terbesar. Tapi jika berbicara kota wisata, saya cukup tau alasan Go-Jek memperlebar bisnis di kota seperti Bali, Jogja, Solo dan Bandung. Kota-kota tersebut cukup punya alasan untuk dijadikan sasaran tembak, wisatawan dimana-mana. Dari keempat kota yang sudah saya sebut diatas, saya sudah mencobanya (kecuali Bali), dan layanan Go-Jek belum berjalan cukup baik, saya hanya melihat keberhasilan di Jogja, wajar saja kota pariwisata dan kota pendidikan. Lantas bagaimana dengan Kota Madiun yang notabennya bukan kota pariwisata dan kota pendidikan?

2. Madiun Bukan Kota Pendidikan

Ini sudah jelas, bukan bermaksud merendahkan kota saya sendiri. Tapi Universitas besar apa yang ada di Madiun? mungkin hanya ada 3-4 Universita, itupun bukan Universitas yang cukup untuk menarik perhatian calon mahasiswa dari luar kota. Mari kita lihat, seberapa banyak perantau yang berminat sekolah atau kuliah di kota ini? jelas ada tapi tidak banyak.

3. Gaya Hidup dan Kebutuhan

Berbicara mengenai gaya hidup, jelas Madiun berbeda dengan Jakarta. Udah jangankan Jakarta, kita bandingkan dengan Jogja saja tentu sudah jauh pakai banget. Jika kopi hitam di Jakarta di pinggir jalan saja seharga Rp 3000, di Madiun paling hanya sekitar Rp 1000. Itu berbicara menyoal makanan pinggir jalan, berbicara ke tempat yang lebih ekslusive, sebut saja salah satu kafe terkenal I-Club, saya seringkali nongkrong disini setiap saya mudik.

Di kafe ini, untuk membuat kenyang 4-5 orang kita cukup mengeluarkan uang Rp 200.000, di Jakarta? wah mungkin kita sedang bermimpi. Segelas kopi saja bisa membuat seseorang mengeluarkan Rp 50.000.

4. Ekonomi dan Finansial

Kita berbicara mengenai kondisi finansial dan ekonomi. Berapa UMR Madiun? silahkan googling sendiri. Dari UMR itu, seberapa besar daya beli masyarakat? Ibu saya saja, bisa marah-marah ketika dalam satu hari beliau tau saya menghabiskan uang jajan 100-200ribu, padahal di Jakarta mungkin uang itu cuma saya pakai buat makan pokok doang, itupun di warteg bukan di kafe.

Atau sederhana saja, kita ambil kasus yang sedikit lebih besar keluarga besar saya. Seringkali ketika ada anak-anaknya yang mudik, dia bakal di bawain beras dari kampung. Sayang saja, orang generasi milenial seperti saya jarang ada yang mau ribet bawa barang berat.

5. Madiun bukan kota macet

Jika salah satu visi mereka hadir untuk mengurangi kemacetan, Madiun adalah kota yang cukup lengang. Seseorang bisa naik motor berkecepatan 80-100 KM/jam jika ia mau (ditilang polisi).

6. Ojek pangkalan saja tidak laku

Banyak sebab kenapa ojek tidak laku, lihat seberapa banyak ojek pangkalan (dan juga driver taksi) yang seringkali nganggur. Alasan pertama jelas, semua orang sudah punya kendaraan, dan misal ketika dia pulang ke Madiun dan tiba di stasiun/terminal, keluarga atau mungkin teman dia malah melarang menggunakan Ojek atau taksi. Mereka bakal sukarela mengatakan, “nanti tak jemput saja daripada buang duit buat bayar Ojek”.

Kan Go-Jek lebih murah daripada ojek pangkalan?

Itu sudut pandang orang yang tidak tau kan, atau kalau masih mau ngeyel murah juga, itu murah standardnya Jakarta, dan di Jakarta-pun itu masih karena harga promo. Saya yakin orang Madiun akan lebih memilih pinjem kendaraan temen dan beliin motor temen bahan bakar daripada bayar Go-Jek 15ribu.

Kesimpulan:

Dari segala macam fitur yang nantinya Go-Jek tawarkan (Go-Ride, Go-Food, Go-Glam, dsb), fitur yang mungkin masih bisa berjalan tentu adalah Go-Food, karena kebutuhan masyarakat Madiun soal makanan cukup tinggi. Menurut sudut pandang saya, Go-Ride tidak akan mampu menembus pasar Madiun, karena masalah gaya hidup masyarakat Madiun sendiri, daya beli masyarakatnya rendah dan seringkali masih memilih opsi-opsi lain yang sekiranya masih bisa dilakukan.

Bisa saja di awal Go-Jek ini akan booming hanya karena rasa penasaran masyarakat untuk mencoba, tapi lambat laun mereka akan sadar bahwa ini tidak sesuai kebutuhan.

Mari kita lihat, apakah analisa saya ini bakal benar, atau saya yang masih perlu memperdalam ilmu saya dalam hal analisa?

Terlepas dari analisa diatas, saya sebagai warga Madiun sangat mendukung 100% jika memang rencana ini ada, jelas ini akan membuka peluang baru untuk saudara-saudara saya di Madiun. Dan tentunya bisa saya pakai nanti ketika saya pulang ke Madiun :D.

Seorang blogger, writer, traveler dan photographer. Author MastahSEO.com, Founder Artikel.co & Co-founder Manjadda.com. Dapat dihubungi melalui mail@airul.id.

8 Komentar: Pada Menelisik Keberadaan Go-Jek di Madiun, Akankah Sukses?

  • analisa yg bagus mas, sy asli ponorogo dan tinggal di jogja yang kebetulan ada gojek juga di jogja. sepengetahuan sy jg angkutan umum sudah tidak banyak yang menggunakan, tidak seperti di kota-kota besar. 2 tantangan terbesar bagi gojek untuk menembus pangsa pasar karesidenan madiun menurut saya adalah

    (1) tingginya jiwa sosial (tolong-menolong) di daerah sana, seperti yang mas bilang kalau perlu tumpangan (ojek) biasanya saudara/tetangga/teman dg senang hati mengantarkan, dan
    (2) kebanyakan orang sudah punya kendaraan sendiri, kalaupun ada yang belum punya kembali lagi ke poin nomor 1, saudara/tetangga/teman dg senang hati meminjamkan.

    kira-kira apa ya strategi gojek menembus pasar sana? menarik nih.

  • optimis mas di larang pesimis

  • Menarik analisa nya..dan skrg gojek udah benar2 tersedia di madiun,, kalo pakai goride di kota2 saja tidak sampe 10rb/15rb..untungnya masih ada gofood.. mgkn fitur gofood yg bakal lebih efektif digunakan di kota madiun yg kecil ini

  • uda lah gpp..biar aja ada gojex di madiun..toh itu jg mmbuka lapangan pkerjaan bwt msyrakat…toh jalan/tidaknya biar d tanggung ama big boss nya…
    itung” biar madiun tmbh maju en ga slh kota”besar….alhamdulilah aj kni d mdiun uda bnyk d bangun mall,,,hotel berbintang Aston pun sdah msuk d madiun…tnggal kt tnggu aja Bandara yg isu”nya mau ada jg

  • analisa nya payah… gojek datang karena kebutuhan.. pertama tama sepi tapi lama kelamaan pasti rame… pebisnis melihatnya kedepan bukan sekarang… kita berinvestasi sekrg… menikmati hasilnya 2-5 tahun lagi.. seperti investasi di bidang yang lain…

  • Permintaan luar biasa ternyata

  • Saya merasa setuju dengan adanya Gojek di Kota Madiun, karena saya sudah terbiasa menggunakan Gojek jadi ketika keluar kota pun pasti mencari yang praktis denga hanya tinggal buka dari aplikasi saja,

Tinggalkan balasan:

Email Anda tidak akan kami publikasikan.