Jangan Gemar Mengkafirkan Seseorang

Terkadang, dunia selalu sulit untuk dimengerti, namun menarik untuk dikaji. Dan kali ini saya ingin mencoba mengkaji beberapa hal yang menurut saya cukup menarik, tentang kegemaran orang-orang yang memiliki perbedaan pendapat dengan tindakkan mengkafirkan seseorang.

Hal ini cukup mengganggu pikiran saya, karena sejujurnya saya adalah orang yang suka melakukan sebuah analisa terhadap sesuatu, misalnya seperti “apakah benar jodoh di tangan Tuhan?”, dan masih banyak lagi yang saya tidak akan tulis disini.

Sebelum lanjut lebih jauh, saya ingin menggaris bawahi bahwa tulisan saya tidak ada kaitannya dengan politik, sama sekali tidak. Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya alami secara pribadi.

Jika menelisik lebih jauh, kafir bisa memiliki makna harfiah sesat, yang berarti orang yang sesat adalah orang yang tersesat. Saya jujur sangat menyukai analogi yang dibuat Cak Nun, yakni kalau ada orang yang sedang di jalan, kemudian ia tersesat dan tidak tahu harus berjalan kemana, maka kewajiban seseorang yang lain adalah memberitahu jalan yang benar bukan?

Tapi faktanya, ini yang terjadi di masyarakat saat ini, orang terlalu mudah menyimpulkan kafir, sesat atau sejenisnya. Padahal, sudah jelas bahwa hukum mengkafirkan seseorang dalam Islam adalah sebuah dosa. Jadi, siapa yang pemahaman agamanya lebih dangkal disini?

Sejujurnya, saya paham bahwa kebiasaan ini memang terbentuk karena adanya unsur politik di Indonesia, tapi harusnya kita cukup sadar bahwa apa yang ada di ranah politik, harusnya tidak dibawa terjun ke masyarakat. Kita harus benar-benar dewasa dalam memosisikan diri disini.

Kita juga harus mulai belajar membedakan mana mengritik dan mana menghujat, dua hal yang punya perbedaan setipis kulit ari. Kritik adalah bentuk ketidaksukaan kita terhadap sesuatu yang disampaikan dengan cara memberi solusi pula. Secara akademis, kritik harus disampaikan dengan diiringi oleh sebuah solusi.

Menurut saya pribadi, sebuah kritik yang disampaikan tanpa sebuah solusi sama saja dengan menuduh seseorang maling tapi tanpa bukti.

Ayolah, di bulan yang penuh dengan semangat kemerdekaan ini, kita sama-sama membangun Indonesia ini dari akarnya. Masalah Indonesia ini ada pada akarnya. Akarnya siapa? ya kita-kita ini, kita-kita yang terlalu sibuk mengurusi hal-hal sekunder hingga lupa dengan hal-hal yang lebih primer.

Magetan, 19 Agustus 2017.

Seorang blogger, writer, traveler dan photographer. Author MastahSEO.com, Founder Artikel.co & Co-founder Manjadda.com. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan balasan:

Email Anda tidak akan kami publikasikan.