Sampai Mana Kita Mengejar Dunia…

Setahun belakangan, hati saya gundah, ada perasaan yang tidak bisa saya ungkap. Saya harus akui, kehidupan saya penuh dengan harta melimpah, beli segala sesuatu yang saya mau rasa-rasanya tinggal tunjuk. Tuhan begitu baik, pikir saya kala itu.

Awal januari 2017 lalu, saya berbicara dengan sahabat saya Fahmi, berbicara mengenai kegelisahan hati saya. Mata saya tiba-tiba sembab, Fahmi hanya termenung melihat saya. Dari situ saya mulai sadar, ada beberapa hal yang musti saya perbaiki. Meskipun setidaknya saya masih bersyukur, hingga detik ini saya tidak diperkenalkan dengan miras dan narkotika.

Ada kesepian yang saya rasakan di tengah keramaian, ada kegelisahan yang tertutupi oleh senyuman.

Semua itu, pada akhirnya membawa saya untuk belajar kembali ilmu-ilmu Fiqih dan Aqidah, ilmu yang 12 tahun saya cicipi di Madrasah. Hingga kemudian saya merasa ada yang tidak pas dengan dengan kehidupan saya saat ini. Saya mulai belajar beberapa hal kembali, menonton video dari beberapa orang yang sekiranya bisa mengarahkan saya, dan yang paling saya suka adalah Cak Nun. Entah mengapa, justru gaya slengekan ala Cak Nun dan Sabrang (Noe Letto) justru yang mengena di hati.

Salah satu cuplikan video yang saya tonton adalah ketika Sabrang bercerita mengenai perjalanannya menjadi Vokalis terkenal. Dimana dia juga memiliki benturan hati dengan pilihannya, namun dia punya prinsip ketika kita sudah nyebur, kita musti basah sekalian. Tapi kita juga musti punya batas, sampai batas mana kita terbawa arus.

Saya mulai belajar memperbaiki diri dari hal-hal kecil, meninggalkan investasi-investasi yang berbau riba, zina mata hingga kriteria dalam memilih istri, makanya saya biasa-biasa saja ketika banyak orang berkata “mantan playboy sekarang jomblo”, saya sama sekali tidak merasa terganggung dengan itu.

Sebagai seorang digital marketing specialist, saya juga mulai meninggalkan beberapa project yang mengandung unsur finance, sederhana saja, ada riba di dalamnya.

Berbicara mengenai rezeki, saya juga perlahan mulai sadar, bahwa ternyata rezeki itu tidak selalu tentang nikmat. Terkadang rezeki juga datang sebagai ujian, ujian yang menguji apakah kita akan lalai dengan apa yang sudah Tuhan berikan.

Jangan mati matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati. Cak Nun

Semua tulisan ini sudah ada di pikiran saya sejak lama, saya hanya berusaha meyakinkan diri saya apakah saya benar-benar sudah siap dengan pilihan hidup saya. Pada akhirnya, melalui bait terakhir ini, saya sudah mulai menentukan kemana arah hidup saya kedepan.

Cepat…atau Lambat. Bismillah, Istiqomah.

Seorang blogger, writer, traveler dan photographer. Author MastahSEO.com, Founder Artikel.co & Owner Manjadda.com. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan balasan:

Email Anda tidak akan kami publikasikan.