Idul Fitri: Terselip Kesedihan di Hari Kemenangan

Lebaran tiba, semua umat muslim di dunia menyambut dengan gembira. Saya bersyukur bahwa saya masih dipertemukan dengan ramadhan dan tentunya idul fitri. Namun ada 1 hal yang dimana saya kecewa dengan diri saya, yakni melewatkan beberapa hal yang seharusnya saya lakukan di bulan ramadhan kemarin.

Sebelum lanjut lebih jauh, saya ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri buat semuanya, saya meminta maaf jika lisan dan tulisan ini pernah melakukan kesalahan.

Berbicara mengenai lebaran, hari ini ada dua perasaan berbeda pada diri saya, bahkan keluarga besar saya. Setelah sholat ied, seperti biasa kami berbincang-bincang sembari menyantap sarapan pagi. Dan entah mengapa, saya tiba-tiba teringat dengan Almarhumah kakak sepupu saya, mbak Yayuk.

“Hah, kelingan mbak yuk aku (keinget mbak yuk aku)”, entah kata-kata sensitif itu secara naluriah meluncur dengan sendirinya, spontan apa yang ada di benak saya. Ibu saya terdiam sejenak, saya melihat beliau menahan tangis sembari berucap “Wis ojo omong (udah jangan dibahas)”.

Sedikit bercerita, mbak Yuk adalah kakak sepupu saya, Almarhumah adalah anak dari Almarhumah Bu Dhe saya. Sejak kecil, mbak Yuk dan semua adik-adiknya memanggil ibu saya dengan sebutan Ibu, sementara sapaan untuk ibu kandungnya adalah Mak.

Beberapa bulan yang lalu beliau meninggal dunia, karena sakit. Ibu saya adalah salah satu orang yang cukup terpukul dengan meninggalnya mbak Yuk, mereka memang memiliki kedekatan layaknya ibu dan anak (kandung). Bahkan ibu saya adalah salah seorang yang menunggu ketika mbak Yuk masih di rumah sakit.

Mbak Yuk adalah orang yang sangat care ke keluarga, setidaknya yang saya tahu ke keluarga saya. Dia selalu ada dalam setiap keadaan, baik susah maupun senang.

Selain ibu saya, orang yang jelas cukup terpukul tentu adalah nenek saya, beliau menangis tersedu ketika kami berkunjung ke rumahnya. Jelas, ucapan “cucumu masih banyak mbah” adalah ungkapan yang tidak saya setujui, sosok tidak akan pernah bisa diganti, tidak sesederhana itu.

Well, tahun ini tidak ada mbak Yuk yang marah-marah ketika saya menolak makan. Tidak ada mbak yuk yang bilang “ayo nambah lagi makannya biar gemuk”.

Tapi apapun itu, saya tahu Allah maha perencana, saya hanya bisa berdoa bahwa kakak yang saya cintai ini ditempatkan di tempat yang terbaik.

Magetan, 25 Juni 2017.

Seorang blogger, writer, traveler dan photographer. Author MastahSEO.com, Founder Artikel.co & Co-founder Manjadda.com. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan balasan:

Email Anda tidak akan kami publikasikan.