Jurnal Belajar FB Ads

Saya mengenal dunia Internet Marketing (khusus-nya SEO) pada tahun 2011. Barulah pada 2016 saya terjun ke AdWords, kemudian disusul FB Ads pada 2017 yang lalu. Sebuah gap yang cukup jauh memang, hal tersebut dikarenakan saya pernah terjebak pada keyakinan bahwa cukuplah bagi saya menggunakan SEO. Toh jualan juga sudah laku hanya dengan modal itu.

Seiring berkembangnya waktu, saya sering bertemu dengan banyak orang diluar SEO. Terutama para pengusaha-pengusaha (online) yang sengaja meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya. Niatnya tentu, untuk belajar SEO.

Saat itu, hal yang seringkali saya tanyakan adalah “kenapa musti belajar SEO segala? kan paid traffic udah jalan, hasil udah gede juga”. Jawaban mereka rata-rata, ya kalau bisa semuanya kan bisa tambah kaya.

“Wah, iya juga ya”, gumam saya dalam hati.

Tapi saya punya pendapat lain soal itu, ini bukan perkara bisa tambah kaya kalau bisa semuanya. Tapi lebih ke bagaimana kita growth alias berkembang. Disisi lain, kita memang tidak bisa meletakkan telur dalam satu keranjang, nanti kalau pecah semua, kelar dah!

Sebenernya gambaran yang ada di otak saya waktu adalah saya bisa menjalankan bisnis saya dengan sangat cepat dengan paid traffic, entah itu AdWords atau FB Ads. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk belajar. Ya meskipun bisa dibilang terlambat, kan lebih baik terlambat dari pada nggak sama sekali.

Coba banyangkan seorang partner bisnis saya bilang, “mas, saya ada produk ini, bisa kita kerjasama?”. Tentu jika saya hanya mengandalkan SEO, ada masa jeda setidaknya 2-3 bulan untuk bisa masuk halaman 1 Google, artinya ada momen dimana ada duit banyak yang kita lewatkan.

Well, itulah singkat cerita kenapa saya merubah mindset saya dari praktisi SEO ke praktisi Internet Marketing.

Nah, sekarang waktunya kita bicara soal FB Ads. Tapi sebelumnya saya ingin menekankan bahwa saya bukanlah pakar di FB Ads, semua tulisan ini cuma berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi saya dalam mempelajari FB Ads. Sumbernya dari macem-macem, ada yang dari belajar dengan baca-baca, ada dengan menghisap darah mastah :D, dan sebagainya.

Kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan boncos

1. Audience

Ini memang penting banget. Kalau di SEO dan AdWords, bisa dibilang ini target keyword. Awalnya, dulu saya mikir bahwa dengan memasang kode piksel di blog yang related dengan jualan saja sudah cukup. Tapi ternyata, itu tidak menjamin.

Misalnya, kita punya blog yang masuk halaman pertama Google di keyword “cara menghilangkan jerawat”, ini belum tentu piksel-nya akan mateng untuk ngiklan produk jerawat. Harus bener-bener diolah sedemikian rupa agar bisa menemukan wining campaign. Jadi gak bisa tuh cuma main ngiklan dengan piksel tangkapan SEO aja.

Nah, itu dari sisi sumber trafik dari SEO. Kalau dari custom audience gimana mas?

Dulu, ketika saya masih tahap sangat belajar dan ingin ngiklanin produk “asam urat”, saya hanya nembak gitu doang tanpa mikir panjang. Alhasil, Alhamdulillah boncos.

Nah, untuk pemilihan audience ini memang musti sangat detil, mengingat orang orang yang punya minat soal asam urat ini masih lebar banget. Bisa jadi, content writer yang sedang nulisin artikel pesanan client, bisa jadi mahasiwa yang lagi bikin makalah, dan sebagainya.

Mangkanya, disini kita dituntut untuk bener-bener jeli melihat pasar. Pertama misalnya, kira-kira umur orang yang sering mengidap asam urat itu dikisaran umur berapa? Kan agak kurang logis kalau umur 20-25 tahun udah mengidap asam urat, rata-rata mungkin di usia 30 tahun keatas.

Jadi, musti kita set tuh target usianya berapa dulu. Misalnya kaya gini.

Tapi dengan hanya begini, bisa saja masih boncos. Bahkan bukan bisa lagi, tapi udah hampir pasti masih boncos. Karena seperti yang saya bilang diatas, ini audiece masih terlalu luas, jadi kitar bisa persempit pemirsanya lagi.

Gambaran sederhananya begini, kita terlebih dahulu nyari data terkait asam urat, misalnya penyebab asam urat itu apa. Let’s say salah satu penyebab asam urat itu junk food (makanan cepat saji). Nah, kita bisa persempit pemirsanya kurang lebih seperti ini.

Jadi secara garis besar, nantinya akan menghasilkan audience yang punya minat asam urat dan suka makan makanan cepat saji (yang notabennya bisa menyebabkan asam urat). Tapi diatas cuma gambaran aja ya, belum tentu convert juga nanti ketika dicontek, karena contoh diatas ya cuma ngawur aja :D.

2. Sering Pause Iklan

Ini kebiasaan buruk pemain baru (dan termasuk saya dulu juga gitu). Seringkali pemain baru itu pause iklannya karena merasa boncos. Padahal ngiklan FB Ads dan boncos diawal itu wajar banget, hal ini karena piksel kita masih mempelajari campaign yang kita buat. Dan setidaknya butuh waktu 7 hari untuk mempelajari hal itu.

Nanti saya lanjut deh, bingung juga mau bahas apa. Maklum masih newbie :D. Kalau ada pertanyaan, mungkin bisa disampaikan di komentar, kalau saya belum bisa jawab, lumayan bisa saya jadiin materi buat ngisep darah mastah lagi 😀

 

Tinggalkan komentar