Pentingnya Mengenal Potensi Diri Sendiri

Semalam salah satu sahabat mengirim saya sebuah pesan singkat melalui Whatsapp. “Mas, bisa telfon?”, tulisnya singkat. Singkat cerita, saya mengenal dia sudah sejak tahun 2014, ketika saya menjadi salah satu pemateri di kelas online-nya om Rakean. Saya baru benar-benar mengenal dia sekitar tahun 2016, sebelumnya kami hanya berinteraksi via sosial media.

Sahabat saya ini saat ini berprofesi sebagai seorang SEO Manager, sebuah jabatan yang terbilang cukup prestise untuk para pelaku digital marketing.

Sejak bertemu dengan saya, keluhan dia hanya satu, dia selalu gagal memanage sebuah bisnis pribadi. Padahal jika kita berfikir secara logis, dia yang merupakan SEO Manager jelas punya kapabilitas dalam membangun sebuah bisnis. Tapi jangankan sebuah toko online, blog AdSense saja dia nggak punya. Terdengar konyol memang, tapi itu fakta yang ada.

Kembali mengenai perbincangan saya dengan sahabat saya ini, akhirnya kita melanjutkan percakapan melalui telepon. Yah seperti biasa, awalnya hanya basa dan basi saja, karena memang semenjak saya pulang ke Magetan, saya dan dia sudah sekitar 3 bulan tidak ketemu.

Percakapan berlanjut ke sesuatu yang lebih serius, tanya-tanya project dan tentunya curhat. Dan apa yang coba saya sampaikan kepada dia adalah untuk bersikap realistis dengan apa yang ada di depan kita. Problem dia menurut saya ada 2 hal, yakni sangat sibuk dengan urusan kantor dan klien. Hal tersebut yang membuat dia memiliki keterbatasan waktu untuk mengeksplore dirinya.

Di sisi lain, dia punya cita-cita yang cukup gila, sebuah cita-cita yang sangat idealis dan mustahil untuk dikerjakan saat ini. Project ini butuh waktu, tenaga, dan pikiran yang utuh, nggak bisa dikerjakan sambilan jika memang ingin sukses.

Sehari sebelum saya pulang ke Magetan, saya sempatkan waktu untuk ngopi dengan dia. Saya sempat memberikan saran untuk resign dari kantor jika memang ingin project dia ini jalan, namun karena beberapa pertimbangan opsi saya ini ditolak. Akhirnya sampai hari terakhir saya di Jakarta, saya tidak bisa memberi solusi terbaik.

Masalah lain yang saya lihat pada sahabat saya ini adalah kepercayaan diri, seringkali saya lihat dia nggak cukup PD dengan skill yang dia punya di bidang SEO. Hal ini tercermin pada kalimat yang sempat dia ucapkan ke saya ketika ngopi.

“Gue nggak ngerti musti gimana lagi kalau lu udah nggak di Jakarta mas. Kalau gue bareng lu, gue itu tahu musti ngapain. Gue juga semangat ngerjain sesuatu kalau bareng lu gini, tapi ini entar gue sampai rumah, gue nggak yakin ini bakal gue lanjutin”.

Saya agak tersentak dengan pernyataan tersebut, meskipun secara implisit saya sudah biasa disebut “jendral”, “komandan”, “boss”, atau “tukang kompor” oleh orang-orang di inner circle saya. Ya mungkin saja karena emang saya yang paling sering nyentil dengan guyonan, “kerja mulu, nggak kaya-kaya”. Atau biasanya saya yang seringkali menguatkan moril mereka dengan kalimat “Kalian itu jago, itu keyword kalian tiup juga page-one”.

Terlepas dari itu semua, apa yang membuat saya tersentak adalah kok beberapa sahabat saya terlalu bergantung sama saya. Jadi terkesan kok kayaknya kalau nggak ada saya disebelah mereka apa yang mereka kerjakan nggak bakal jadi. Padahal secara skill, banyak dari sahabat-sahabat saya yang lebih jago, lebih hebat. Dan menurut saya ini adalah hal-hal yang sangat penting digali sama setiap orang, bukan hanya sahabat-sahabat saya aja.

Sebelum saya lebih lanjut, saya harap tidak ada pikiran bahwa saya ini orang ampuh, orang hebat, orang jago. Jadi sahabat-sahabat saya sangat bergantung sama saya. Sama sekali enggak, saya ini orang biasa-biasa aja, cuma menurut saya hal yang paling penting dari menjalani kehidupan adalah kita harus mengenal diri kita sendiri.

Saya pernah menulis di sebuah notes kemudian membagikannya di Instagram saya @airulaltarf (kalau mau follow juga boleh). Notes tersebut bertuliskan:

Kegagalan yang terjadi pada banyak pemuda saat ini bukan karena dia bodoh, melainkan dia gagal mengenali (potensi) dirinya sendiri. Kemudian pada akhirnya dia tidak memiliki kepercayaan diri.

Jika berbicara mengenai maksud dan tujuan kalimat yang saya tulis tersebut, sebenarnya ada banyak hal yang bisa menjadi contoh. Misalnya kalau di zaman sekarang, orang terlalu fanatik dengan unsur Korea, akhirnya segala sesuatunya meniru Korea. Mungkin banyak yang berfikir, “apa salahnya?”. Nggak salah memang, tapi secara alam bawah sadar akan ada hal-hal yang sengaja kita rubah dari identitas kita.

Sepele memang, tapi hal-hal kecil yang disepelekan akan cenderung membuat kita mudah menyepelekan hal-hal besar.

Kasus lain yang sering terjadi saat ini adalah memilih jenjang pendidikan. Coba lihat sekeliling, berapa banyak orang di sekeliling kita yang cuma kuliah gara-gara nurutin gengsi? atau berapa banyak memilih jurusan cuma karena ngikut temen? Pada akhirnya berapa banyak yang setelah lulus bingung mencari kerja? Semua terjadi karena banyak orang yang nggak kenal potensi dirinya sendiri.

Kalau kamu seorang ayam, fokuslah menjadi ayam, galilah hebatnya menjadi ayam sehingga kamu akan berhenti bermimpi menjadi burung yang bisa terbang.

Untuk kasus sahabat saya tadi, dia cenderung tidak percaya bahwa “he can do something”. Seorang SEO Manager udah pasti ngerti SEO, pengalaman di SEO tentu nggak sedikit. Tapi karena dia tidak mengenal dirinya sendiri, dia akhirnya terkesan nggak percaya, ragu-ragu dan kemudian stuck, projectnya nggak jalan.

Jadi misalnya begini. Seseorang ingin menjadi pemain sepakbola, dia terlebih dahulu harus menggali apakah dirinya punya bakat menjadi sepakbola. Jikalau pada akhirnya ternyata dia nggak punya bakat sepakbola, apakah sekiranya dia punya tekad yang kuat untuk mempelajari sepakbola?

Masalah juga tak berhenti sampai disitu. Sepakbola ada posisi-posisi tertentu, seseorang tersebut juga harus menentukan posisi terbaik bagi dirinya. Apa dia lebih cocok jadi kiper, pemain bertahan, gelandang atau mungkin penyerang.

Bagi saya, untuk mengenal diri sendiri caranya cukup sederhana, yakni cukup mengikuti kemana kata hati mengarahkan. Dulu ketika saya lulus SMA, saya memutuskan diri untuk kuliah IT (D1). Tahun 2011, hidup di kampung, siapa yang kenal IT? Berapa banyak tetangga yang bingung dan malah ikut-ikutan ngurusin hidup saya dengan menyarankan saya pindah kuliah melalui orang tua? Tapi apa yang saya tahu dan saya yakini adalah teknologi akan selalu berkembang maju. Apa yang saya lakukan cukup meyakinkan orang tua saya bahwa pilihan saya bener.

Sekarang?

Yah, minimal saya sudah pernah kerja kantoran, pernah kerja di perusahaan asing, pernah jadi manager di usia 24 tahun.

Yah, kurang lebih seperti itu. Jadi, mari kenali siapa diri kita, setiap orang diciptakan dengan potensi yang berbeda-beda. Jangan mudah tergerus oleh tren.

Buat yang mungkin baru terjun ke digital marketing gara-gara temen-temennya sukses di digital marketing, coba bener-bener gali diri terlebih dahulu. Apakah kira-kira bidang ini cocok dengan diri kita? Kalau nggak cocok, kira-kita apakah kita bisa berusaha membuatnya cocok?

Sekian…

Magetan, 31 Jan 2018

Tinggalkan komentar